|
Penulis : Resha Aksatria Sakti | Editor: Ivan Rosanova Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di pekan kedua bulan Mei menghadapi berbagai tekanan global dan domestik, Hal ini menjadi pemberat IHSG yang pada akhir pekan lalu (08/05) ditutup melemah 2,86% ke 6969,40. Salah satu sentimen yang sempat muncul adalah bahwa Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana melakukan penyesuaian jenis dan tarif pendapatan negara bukan pajak (PNBP) untuk sejumlah komoditas mineral seperti tembaga, timah, nikel, emas, dan perak, yang kemudian atas hal tersebut dilakukan penundaan. Namun demikian, apabila kebijakan tersebut nantinya diberlakukan, maka sektor energi dan pertambangan berpotensi kembali memperlambat langkah IHSG, setelah sebelumnya sektor ini menjadi penopang IHSG dari liku-liku geopolitik Timur Tengah. Pemerintah melalui Kementerian ESDM berencana mengkaji rencana kenaikan tarif royalti mineral dan batu bara (minerba) melalui revisi PP Nomor 19 Tahun 2025 tentang Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Kementerian ESDM. Revisi ini terjadi karena ada potensi windfall profit akibat kenaikan harga komoditas tersebut. Dalam materi yang ditampilkan dalam public hearing PP 19/2025 Jumat (08/05) lalu, terdapat usulan penyesuaian tarif royalti komoditas mineral, usulan penambahan jenis dan tarif iuran baru, serta penyesuaian skema royalti untuk produk ikutan seperti kobalt. Fokus perubahan bukan hanya kenaikan tarif royalti, tetapi juga penyesuaian interval Harga Mineral Acuan (HMA) pada masing-masing komoditas. Sebagai informasi, Berikut merupakan tabel tarif PP 19/2025 terkait minerba : Sumber : cnbcindonesia.com dan bloombergtechnoz.com https://www.cnbcindonesia.com/news/20260511084441-4-733906/siap-siap-pemerintah-ubah-tarif-royalti-emas-tembaga-nikel-timah https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/108497/esdm-mau-revisi-aturan-royalti-mineral-emas-nikel-hingga-timah/2 Kebijakan tarif royalti ini menjadi perhatian serius pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi profitabilitas emiten mineral tambang, terutama yang bergerak di komoditas logam seperti timah, emas, dan tembaga. Royalti merupakan kewajiban pembayaran kepada negara yang dihitung berdasarkan nilai produksi atau penjualan. Ketika tarif royalti naik, biaya yang harus ditanggung perusahaan juga meningkat, yang menyebabkan margin laba menurun dan valuasi saham tertekan. Reaksi pasar terhadap isu ini terlihat cukup cepat. Pada perdagangan akhir pekan lalu, tekanan jual pada sejumlah saham sektor pertambangan berkontribusi besar terhadap pelemahan IHSG. Kondisi ini menunjukkan bahwa investor menilai perubahan kebijakan royalti bukan sekadar isu administratif, melainkan faktor fundamental yang dapat memengaruhi valuasi perusahaan tambang dalam jangka menengah. Secara teknikal, isu ini berpotensi menciptakan tekanan jual jangka pendek dan pelemahan momentum harga pada saham sektor mineral pertambangan. Strategi yang dapat dilakukan oleh investor dalam menanggapi kebijakan ini adalah hindari panic selling, lakukan evaluasi fundamental, dan manajemen portofolio. Kenaikan royalti minerba memang berpotensi menekan sektor, tetapi dampaknya akan berbeda pada tiap emiten. Emiten dengan fundamental solid umumnya memiliki ketahanan lebih baik dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan kebijakan. Selama ketidakpastian regulasi masih berlangsung, investor dapat memerhatikan risiko yang berlaku. Sumber Referensi : https://investasi.kontan.co.id/news/rencana-revisi-tarif-royalti-dapat-menekan-kinerja-emiten-produsen-mineral https://www.kabarbursa.com/makro/royalti-minerba-mau-naik-timah-kena-paling-dalam Berikut merupakan proyeksi saham - saham terkait : 1. TINS (PT Timah Persero Tbk) Berdasarkan chart TINS pada time frame daily, pergerakan harga saat ini berada dalam fase koreksi setelah terjadi rebound di low 3060. Struktur harga saat ini menunjukkan pola lower high dan higher low yang mengonfirmasi ketidakpastian tren jangka pendek hingga menengah. Harga saat ini berada di bawah SMA20 dan sedang menguji level 0.5 Fibonacci (3320) sebagai support terdekat. Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, potensi kenaikan masih terjaga. Level 0,618 Fibonacci (3060) menjadi support kuat yang harus dipertahankan untuk mencegah penurunan lebih dalam ke area 2720. Indikator MACD menunjukkan kondisi bearish di atas garis nol, dengan histogram merah kembali menguat. Kondisi ini menimbulkan false cross yang terjadi pada MACD daily. Walaupun demikian, pada MACD weekly terlihat adanya potensi hidden bullish divergece, yang merupakan sinyal kelanjutan tren. MACD mengonfirmasi bahwa pergerakan harga masih dalam fase konsolidasi dengan tren utama yang cenderung bullish jangka menengah-panjang. Pergerakan TINS saat ini berada dalam fase konsolidasi berpotensi technical rebound. Kunci utamanya adalah menunggu konfirmasi break di atas SMA20 dengan volume tinggi untuk memvalidasi awal kenaikan harga. Perhatikan juga perkembangan harga komoditas timah global dan kinerja fundamental perusahaan sebagai faktor pendukung pergerakan harga. 2. ANTM (PT ANTAM Persero Tbk) Berdasarkan chart ANTM pada time frame daily, pergerakan harga saat ini berada dalam fase konsolidasi setelah mengalami tekanan jual yang cukup signifikan dari puncak 4970. Struktur harga saat ini menunjukkan pola yang cenderung bearish dengan pembentukan lower high dan lower low. Harga saat ini berada di bawah SMA20 sebagai resistance dinamis kuat setelah terjadi penolakan sebelumnya yang membentuk fraktal. Selama harga belum mampu menembus SMA20, potensi kenaikan masih terbatas. Pergerakan harga saat ini menguji level 0,618 Fibonacci (3540) sebagai support kuat. Jika harga berhasil rebound dari level ini, maka target kenaikan berdasarkan Fibonacci Projection adalah 4000, 4110, dan 4470. Indikator MACD menunjukkan kondisi bearish di bawah garis nol setelah terjadi death cross. Histogram merah kembali menguat, menunjukkan momentum jual sedang mengalami penguatan. MACD mengonfirmasi bahwa pergerakan harga berada dalam tren bearish dengan potensi technical rebound jangka menengah yang masih terbatas. Pergerakan ANTM saat ini berada dalam fase konsolidasi dalam tren turun jangka pendek. Kunci utamanya adalah kemampuan harga untuk bertahan di atas level 0,618 Fibonacci dan menembus SMA20 dengan volume tinggi. Perhatikan juga perkembangan harga komoditas nikel dan emas sebagai faktor fundamental yang dapat memengaruhi pergerakan ANTM ke depan. 3. AMMN (PT Amman Mineral Internasional Tbk) Berdasarkan chart AMMN pada time frame daily, pergerakan harga saat ini berada dalam fase downtrend tajam setelah gagal mempertahankan resistance cluster SMA20 dan 0,786 Fibonacci (5250). Struktur harga secara jelas membentuk pola lower high dan lower low yang mengonfirmasi tren bearish jangka pendek-menengah. Harga saat ini sedang bergerak menuju level 1,236 Fibonacci (3800) sebagai upaya untuk mencari dasar kenaikan. Selama harga belum mampu mematahkan dominasi penjual dan bertahan di bawah 4000, tekanan bearish masih berpotensi berlanjut menuju area support 3800.
Indikator MACD menunjukkan kondisi death cross di bawah garis nol, dengan histogram merah yang semakin menguat. Hal ini menunjukkan bahwa momentum jual semakin dominan dan memerlukan konfirmasi lebih lanjut. Meskipun tren utama masih bearish, terlihat adanya potensi bullish divergence di mana harga membentuk lower low, sedangkan MACD membentuk higher low. Sinyal ini dapat menjadi awal penguatan teknikal jangka pendek. MACD mengonfirmasi bahwa AMMN berada dalam fase distribusi kuat, dengan potensi pembalikan arah tren sebagaimana sinyal bullish divergence muncul. Pergerakan AMMN saat ini masih melanjutkan koreksinya dalam tren bearish dengan potensi technical rebound terbatas. Kunci utamanya adalah keberhasilan harga untuk reversal berdasarkan sinyal MACD dan menembus ke atas SMA20 dengan volume tinggi. Perhatikan juga perkembangan harga komoditas tembaga dan emas serta sentimen makroekonomi sebagai faktor fundamental yang memengaruhi pergerakan harga AMMN ke depan. Disclaimer : Informasi yang disampaikan bertujuan sebagai edukasi dan referensi umum, bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli, menjual, maupun menahan saham tertentu. Investasi saham merupakan produk pasar modal yang mengandung risiko, termasuk kemungkinan kehilangan sebagian atau seluruh modal. Kinerja saham di masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa depan. Harga saham dapat berfluktuasi dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal perusahaan, serta kondisi ekonomi dan pasar secara keseluruhan. Keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab masing-masing investor, dengan mempertimbangkan tujuan investasi, kondisi keuangan, serta profil risiko pribadi. Investor disarankan untuk melakukan analisis dan riset secara mandiri, serta membaca keterbukaan informasi dan laporan keuangan sebelum berinvestasi. Apabila diperlukan, konsultasikan dengan penasihat keuangan atau pihak profesional yang berizin. |
Archives
June 2026
Categories
All
|
RSS Feed