Mengintip Bisnis Sawit Terintegrasi Eagle High Plantations (BWPT) Lewat Kunjungan ke PT Jaya Mandiri SuksesPenulis: Avanza Bagus Aditya & Dento Budijaya Putra | Editor: Dento Budijaya Putra Binaartha.com - Industri kelapa sawit selalu menarik untuk diikuti, apalagi jika perusahaannya sudah mengelola bisnis dari hulu sampai hilir dalam satu rantai produksi. Salah satu contohnya adalah PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT), emiten sawit yang sahamnya diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. Pada 24–26 Juni 2026, tim Binaartha Sekuritas berkesempatan melakukan kunjungan lapangan langsung ke salah satu anak usaha BWPT, yaitu PT Jaya Mandiri Sukses (JMS), yang berlokasi di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Kunjungan ini menjadi kesempatan berharga untuk melihat langsung bagaimana operasional perkebunan dan pengolahan kelapa sawit dijalankan, mulai dari tahap pembibitan hingga produk siap jual. Berikut rangkuman lengkap hasil kunjungan lapangan tersebut, disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami agar siapa pun bisa mengikuti perkembangan bisnis BWPT. Baca juga: Research BWPT Mengenal PT Jaya Mandiri Sukses (JMS) JMS merupakan salah satu entitas anak usaha Eagle High Plantations yang menjalankan bisnis kelapa sawit secara terintegrasi. Artinya, perusahaan ini tidak hanya mengelola kebun sawit, tetapi juga memiliki fasilitas pembibitan, pabrik pengolahan crude palm oil (CPO), pabrik pengolahan palm kernel, hingga fasilitas penyimpanan atau bulking CPO. Model bisnis terintegrasi seperti ini memberikan keuntungan tersendiri karena perusahaan bisa mengontrol seluruh proses produksi dari awal hingga akhir, sehingga efisiensi biaya dan kualitas produk lebih terjaga. Tahap Pembibitan: Persiapan Menuju Replanting Salah satu aspek menarik dari kunjungan ini adalah melihat langsung fasilitas pembibitan kelapa sawit milik JMS. Saat ini, perusahaan sudah memasuki tahap main nursery atau pembibitan utama, dengan total pengembangan sekitar 55 ribu bibit sawit. Pembibitan ini bukan sekadar aktivitas rutin, melainkan bagian dari persiapan program replanting atau peremajaan kebun di masa mendatang. Replanting menjadi hal penting dalam industri sawit karena tanaman sawit memiliki masa produktif tertentu. Setelah melewati usia produktif, hasil panen biasanya menurun, sehingga peremajaan kebun dengan bibit baru diperlukan agar produktivitas tetap terjaga dalam jangka panjang. Kondisi Perkebunan: Luas Area dan Sertifikasi Berkelanjutan Dari sisi hulu atau upstream, JMS mengelola enam estate inti dengan total luas area mencapai sekitar 14,6 ribu hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 9,5 ribu hektare sudah menjadi area tertanam dan menghasilkan tandan buah segar (TBS). Yang cukup membanggakan, seluruh area kebun JMS telah mengantongi sertifikasi RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) dan ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil). Kedua sertifikasi ini menjadi bukti nyata komitmen perusahaan dalam menjalankan praktik perkebunan sawit yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Di tengah sorotan global terhadap industri sawit, sertifikasi seperti ini menjadi nilai tambah penting bagi perusahaan untuk menjaga kepercayaan pasar internasional. Selain itu, perusahaan juga tengah mempersiapkan diri untuk memenuhi standar EUDR (European Union Deforestation Regulation), sebuah regulasi Uni Eropa yang mengatur produk-produk yang masuk ke pasar Eropa agar bebas dari praktik deforestasi. Saat ini, pemenuhan standar EUDR masih dilakukan secara bertahap, baik pada sebagian area kebun maupun rantai pasoknya. Fasilitas Pengolahan: Dua Pabrik dengan Fungsi Berbeda Dari sisi hilirisasi, JMS didukung oleh dua unit pabrik pengolahan kelapa sawit dengan total kapasitas olah mencapai 90 ton per jam. Rinciannya, satu pabrik berkapasitas 60 ton per jam dan satu pabrik lainnya berkapasitas 30 ton per jam. Menariknya, kedua pabrik ini memiliki fungsi dan segmentasi pasar yang berbeda. Pabrik berkapasitas 60 ton per jam disiapkan khusus untuk mendukung pemenuhan standar EUDR, sedangkan pabrik berkapasitas 30 ton per jam difokuskan untuk skema non-EUDR. Pemisahan ini memungkinkan perusahaan lebih fleksibel dalam melayani berbagai segmen pasar, baik yang mensyaratkan standar keberlanjutan ketat maupun pasar konvensional. Secara rata-rata, volume tandan buah segar (TBS) yang diolah oleh JMS berada di kisaran 1,2 ribu hingga 1,4 ribu ton per hari. Angka ini menunjukkan skala operasional yang cukup besar untuk sebuah unit usaha pengolahan sawit. Praktik Keberlanjutan: Memanfaatkan Limbah Menjadi Energi dan Pupuk Salah satu hal yang patut diapresiasi dari kunjungan lapangan ini adalah bagaimana JMS mengoptimalkan seluruh hasil pengolahan kelapa sawit, termasuk limbah produksinya. Cangkang inti sawit dan fiber (serat) yang selama ini dianggap sebagai limbah, ternyata dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) internal perusahaan. Dengan cara ini, JMS bisa memenuhi kebutuhan energinya sendiri tanpa terlalu bergantung pada sumber energi dari luar. Tidak berhenti di situ, limbah janjang kosong dan limbah cair juga dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik untuk mendukung produktivitas tanaman sawit. Pendekatan seperti ini mencerminkan konsep ekonomi sirkular (circular economy), di mana limbah produksi diolah kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat, sekaligus mengurangi dampak lingkungan. Baca juga: Beli Saham BWPT Fasilitas Bulking CPO: Mahakam Bulking Selain fasilitas kebun dan pabrik, JMS juga memiliki fasilitas penyimpanan CPO bernama Mahakam Bulking. Fasilitas ini terdiri dari dua tangki penyimpanan dengan total kapasitas mencapai 10 ribu ton, atau masing-masing tangki berkapasitas 5 ribu ton.
Sejalan dengan skema operasional pabrik, salah satu tangki disiapkan khusus untuk memenuhi standar EUDR, sementara tangki lainnya digunakan untuk skema non-EUDR. Berdasarkan data yang tercatat sepanjang Januari–Mei 2026, Mahakam Bulking telah menerima pasokan CPO dari pabrik sebesar 48,97 ribu ton, dengan volume penjualan atau shipment yang mencapai 44,01 ribu ton. Angka ini menunjukkan aktivitas distribusi CPO yang cukup aktif dalam beberapa bulan terakhir. Kesimpulan: Gambaran Bisnis Sawit yang Terintegrasi dan Berkelanjutan Dari hasil kunjungan lapangan ke PT Jaya Mandiri Sukses ini, terlihat jelas bagaimana PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) menjalankan model bisnis kelapa sawit yang terintegrasi, mulai dari pembibitan, perkebunan, pengolahan, hingga distribusi produk. Komitmen terhadap sertifikasi RSPO dan ISPO, serta upaya bertahap memenuhi standar EUDR, menunjukkan bahwa perusahaan berupaya menyesuaikan diri dengan tuntutan pasar global yang semakin memperhatikan aspek keberlanjutan. Selain itu, praktik pemanfaatan limbah menjadi energi dan pupuk organik juga menjadi nilai tambah tersendiri, sekaligus bukti bahwa industri sawit bisa dijalankan dengan lebih ramah lingkungan. Bagi para pelaku pasar dan investor, informasi dari kunjungan lapangan seperti ini bisa menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam memahami fundamental operasional perusahaan sawit yang lebih mendalam. Sumber: Kunjungan Lapangan PT Jaya Mandiri Sukses pada 24–26 Juni 2026 Analis: Avanza Bagus Aditya (AR / Disclaimer On) |
Blog Binaartha SekuritasArchives
August 2026
Categories
All
|
RSS Feed