Gen Z Menjauhi Alkohol, Saham MLBI & DLTA Justru Tumbuh?
Penulis: Dento Budijaya Putra
binaartha.com - Narasi bahwa Generasi Z adalah “generasi sober” yang meninggalkan alkohol sudah beredar luas beberapa tahun terakhir. Tapi seberapa akurat cerita ini, dan apa dampaknya terhadap industri minuman beralkohol termasuk emiten bir yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI)? Jawabannya ternyata lebih rumit daripada sekadar “Gen Z berhenti minum”. Tren Global: Antara Moderasi dan Normalisasi
Selama beberapa tahun, lembaga riset minuman global IWSR (International Wine and Spirit Research) menjadi rujukan utama klaim bahwa Gen Z minum lebih sedikit dibanding generasi sebelumnya. Namun, data terbaru IWSR pada 2026 justru menampilkan gambaran yang lebih kompleks. Tingkat partisipasi minum Gen Z di berbagai pasar utama dunia termasuk Amerika Serikat, Inggris, dan Australia ternyata sudah mendekati atau bahkan menyamai generasi lain, sehingga sejumlah analis menyebut narasi “Gen Z generasi anti-alkohol” sebagai mitos yang terlalu disederhanakan. Kenaikan partisipasi ini banyak dikaitkan dengan pemulihan daya beli anak muda setelah tekanan biaya hidup mereda.
Meski begitu, riset lain seperti survei Attest terhadap konsumen AS berusia 21–27 tahun menunjukkan pergeseran pola yang tetap nyata: proporsi Gen Z yang sama sekali tidak minum naik dari 17% menjadi 24% dalam setahun, sementara kebiasaan minum harian turun tajam. Dengan kata lain, yang berubah bukan hanya “berapa banyak Gen Z minum”, tapi juga kapan, di mana, dan seberapa sering mereka minum lebih selektif, lebih jarang, dan lebih terkait momen sosial tertentu. Yang cukup konsisten di berbagai survei adalah pergeseran menuju kategori rendah dan tanpa alkohol (low/no-alcohol atau “NoLo”). Volume bir tanpa alkohol tumbuh sekitar 9% secara global pada 2024, jauh melampaui pertumbuhan bir beralkohol yang justru turun. IWSR memproyeksikan kategori ini tumbuh rata-rata 7–8% per tahun hingga 2029, didorong oleh gaya hidup “sober curious” istilah yang mengacu pada keinginan mengurangi konsumsi alkohol demi kesehatan dan kontrol diri, tanpa harus berhenti total. Bagaimana dengan Indonesia? Di Indonesia, konteksnya sedikit berbeda karena basis konsumsi alkohol memang sudah sangat rendah dibanding rata-rata global. Data Global Status Report on Alcohol and Health dari WHO mencatat konsumsi alkohol Indonesia hanya sekitar 0,8 liter per kapita per tahun, jauh di bawah rata-rata dunia yang mencapai sekitar 5,8 liter. Badan Pusat Statistik (BPS) turut mencatat tren penurunan lanjutan: konsumsi alkohol penduduk usia 15 tahun ke atas turun dari 0,36 liter menjadi sekitar 0,30 liter per kapita dalam periode 2023–2025, dengan penurunan yang lebih tajam di wilayah perdesaan dibanding perkotaan. Fenomena “sober curious” di Indonesia juga banyak diwarnai pergeseran budaya nongkrong dari bir atau minuman keras ke kopi dan matcha. Berbagai survei lokal menyebut Gen Z Indonesia mengonsumsi alkohol sekitar 20% lebih sedikit dibanding generasi milenial, dengan sebagian besar tergolong tidak minum sama sekali. Faktor yang disebut mendorong tren ini antara lain akses informasi kesehatan yang lebih mudah, nilai keagamaan, serta media sosial yang memperkuat citra gaya hidup sehat. Dampak Struktural terhadap Pendapatan Perusahaan Global
Di level korporasi global, pergeseran ini sudah terasa nyata pada valuasi pasar. Sejak puncaknya pada 2021, nilai gabungan saham produsen bir, anggur, dan minuman keras terbesar dunia dilaporkan telah tergerus lebih dari 830 miliar dolar AS, atau sekitar 46% dari puncaknya penurunan yang oleh sejumlah analis dan lembaga riset dinilai bersifat struktural, bukan sekadar siklus ekonomi biasa.
Sejumlah nama besar merasakan dampaknya secara langsung. Diageo, produsen minuman keras terbesar dunia, mencatat penurunan laba operasi signifikan pada tahun fiskal yang berakhir Juni 2025, dengan saham sempat menyentuh level terendah dalam satu dekade setelah perusahaan memangkas proyeksi penjualan. Pernod Ricard menghadapi penurunan penjualan organik dua digit di beberapa kategori, sementara Carlsberg mencatat bahwa kontribusi bir terhadap total pendapatannya turun ke bawah 50% untuk pertama kalinya pada 2025. AB InBev, meski tetap mencetak pendapatan sekitar 59,3 miliar dolar AS pada 2025, mengalami penurunan volume penjualan global. Sebagai respons, hampir semua produsen besar mengalihkan strategi ke premiumisasi dan portofolio non-alkohol. Diageo misalnya melaporkan pertumbuhan organik sekitar 40% pada lini produk bebas alkoholnya, sementara Carlsberg menempatkan lebih dari 100 ilmuwan untuk riset rasa bir tanpa alkohol. Pola ini menunjukkan bahwa dampak strukturalnya bukan hilangnya permintaan minuman secara keseluruhan, melainkan pergeseran nilai dari kategori beralkohol konvensional ke kategori premium dan rendah/tanpa alkohol. Emiten Saham Indonesia yang Terdampak
Dua emiten di BEI paling relevan dengan tren ini adalah PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI), produsen bir Bintang dan mitra Heineken di Indonesia, serta PT Delta Djakarta Tbk (DLTA), produsen bir dengan pemegang saham utama San Miguel dan Pemprov DKI Jakarta.
Menariknya, performa kedua emiten ini pada 2025–2026 justru menunjukkan ketahanan, bukan pelemahan drastis. MLBI mencatat pendapatan Rp3,54 triliun sepanjang 2025, naik 4,69% dibanding tahun sebelumnya, dengan laba bersih tumbuh 3,62%. Momentum ini berlanjut di kuartal I-2026, dengan penjualan bersih naik 13% menjadi Rp758,54 miliar dan laba bersih naik lebih dari 17%. Manajemen MLBI mengaitkan kinerja ini dengan pemulihan konsumsi di segmen hospitality, kekuatan merek premium seperti Heineken, serta strategi penyesuaian harga. Pada chart bulanan, MLBI masih bergerak dalam descending channel jangka panjang. Namun, kenaikan volume perdagangan menunjukkan mulai meningkatnya partisipasi pasar dalam rebound terbaru. MACD juga membentuk bullish divergence, ketika harga membentuk lower low, MACD membentuk higher low. MACD line telah berada di atas signal line dengan histogram positif, meskipun keduanya masih berada di bawah garis nol, sehingga pembalikan tren belum sepenuhnya terkonfirmasi. Saat ini, harga sedang menguji resistance Fibonacci 0,236 di sekitar Rp6.550. Jika berhasil ditembus, resistance berikutnya berada di Rp7.525 dan Rp8.300. Sementara itu, golden ratio Fibonacci 0,618 di sekitar Rp9.075 berpotensi menjadi resistance jangka panjang. Level tersebut semakin mendekati batas atas kanal menurun dan SMA 120 yang masih bergerak turun, sehingga membentuk area konfluensi resistance yang penting. DLTA juga mencatat pemulihan bertahap setelah sempat mengalami penurunan penjualan 12,2% pada 2024. Pendapatan DLTA tumbuh sekitar 4% menjadi Rp674,5 miliar pada 2025, dengan laba bersih naik ke Rp370 miliar melanjutkan tren kenaikan laba selama lima tahun beruntun meski penjualan belum kembali ke level sebelum pandemi yang sempat menyentuh Rp800 miliar. Di kuartal I-2026, penjualan DLTA kembali tumbuh 8,17%, meski laba bersih tertahan kenaikan beban operasional. Pola ini konsisten dengan tren global: volume penjualan arus utama tertekan pergeseran gaya hidup, tetapi pendapatan tetap bisa tumbuh lewat premiumisasi, momen musiman (Ramadan, libur Natal-Tahun Baru, event olahraga besar), serta ekspansi ke segmen hospitality dan pariwisata yang pulih. Risiko jangka menengah bagi kedua emiten ini tetap ada, terutama dari regulasi cukai dan pembatasan minuman beralkohol di Indonesia, tekanan daya beli konsumen kelas menengah, serta preferensi Gen Z yang makin condong ke gaya hidup rendah-alkohol. DLTA masih berada dalam tren bearish karena membentuk lower high dan lower low serta terus gagal menembus SMA 20. Berdasarkan Fibonacci retracement utama berwarna hitam, area sekitar Rp1.515 menjadi support terdekat. Sementara itu, Fibonacci extension berwarna hijau, yang diproyeksikan dari gelombang penurunan sebelumnya, menunjukkan potensi target lanjutan sekitar Rp1.100 apabila gelombang penurunan berikutnya terbentuk dan support Rp1.515 gagal bertahan. Lonjakan volume pada candle merah menunjukkan bahwa tekanan jual masih tinggi dan penjual masih mendominasi pergerakan harga. Meskipun MACD membentuk bullish divergence—harga mencatatkan lower low, sedangkan MACD membentuk higher low—sinyal tersebut baru menunjukkan bahwa momentum bearish mulai melemah dan belum cukup untuk mengonfirmasi pembalikan tren. Selama harga tetap berada di bawah SMA 20 dan tekanan jual masih tinggi, DLTA masih berpotensi melanjutkan penurunan.
Bagi investor, tren ini menunjukkan bahwa dampak “Gen Z menjauhi alkohol” tidak selalu berarti kolapsnya pendapatan emiten terkait. Yang lebih menentukan adalah kemampuan manajemen beradaptasi lewat premiumisasi, diversifikasi produk, dan efisiensi biaya. Data emiten MLBI dan DLTA justru menjadi contoh bagaimana perusahaan consumer non-cyclical bisa tetap tumbuh di tengah tekanan struktural, selama mampu menyesuaikan model bisnisnya dengan cepat.
Artikel ini bersifat edukatif dan bukan rekomendasi jual-beli saham. Selalu lakukan riset mandiri atau konsultasi dengan penasihat keuangan berlisensi sebelum mengambil keputusan investasi. Referensi 1.The Spirits Business – “Gen Z moderation ‘conclusively debunked’, says IWSR” (Juli 2026) 2.The Drinks Business – “IWSR: Gen Z moderation ‘myth’ debunked” (Juli 2026) 3.Attest – “Gen Z alcohol trends 2026: what’s changed and what it means for brands” 4.FoodNavigator – “Gen Z is drinking again, but alcohol is still in trouble” (Februari 2026) 5.The Spirits Business – “How Gen Z is influencing low-and-no” (Januari 2026) 6.TIME – “Why Gen Z Is Drinking Less” (Maret 2026) 7.NACS – “Gen Z Alcohol Trends: Are They Actually Drinking Less?” (Maret 2026) 8.TIMES Indonesia – “Gen Z Kurangi Minuman Beralkohol, Bikin Pusing Industri Miras Global” (Februari 2026) 9.LPM Institut – “Tren Penurunan Konsumsi Alkohol di Kalangan Gen Z” (Maret 2026), mengutip data BPS dan CNBC Indonesia 10.Seru.co.id – “Mengapa Gen Z Meninggalkan Alkohol dan Beralih ke Kopi dan Matcha?” (Januari 2026) 11.World Health Organization – Global Status Report on Alcohol and Health 12.Food Ingredients First – “How the alcohol industry is rethinking R&D amid falling global consumption” (Februari 2026) 13.Movendi International – “Big Alcohol Under Pressure: Falling Profits, Failing Strategies” (November 2025) 14.Businesswire – “AB InBev Reports Full Year and Fourth Quarter 2025 Results” (Februari 2026) 15.Invezz – “Why Diageo, Heineken and Anheuser-Busch are battling falling alcohol demand?” (Juni 2026) 16.CNBC – “Non-alcoholic beer projected to overtake ale as the second-largest beer category worldwide” (2025) 17.Kontan/TradingView – “Multi Bintang (MLBI) Raih Kenaikan Kinerja di Tahun 2025” (Maret 2026) 18.Kompas.com – “Penjualan Tumbuh 13 Persen, Multi Bintang (MLBI) Cetak Laba Rp 228,98 Miliar” (Juni 2026) 19.Neraca.co.id – “Genjot Pertumbuhan di 2026 - Delta Djakarta Perluas Pasar dan Merek” (Desember 2025) 20.RCTI+ – “Delta Djakarta (DLTA) Tetapkan Dividen, Pemprov DKI Kebagian Rp38 Miliar” (Juni 2026) 21.StockWatch.id – “Beban Naik, Tapi Laba Delta Djakarta (DLTA) Tetap Tumbuh 5,3% di Kuartal I 2026” (Mei 2026) RSS Feed
|
Blog Binaartha SekuritasArchives
August 2026
Categories
All
|





RSS Feed