Permintaan Ban Mobil Melesat Seiring Ledakan Penjualan Mobil Listrik di IndonesiaPenulis: Dento Budijaya Putra 8 Juli 2026 - Industri otomotif Indonesia sedang mengalami pergeseran besar. Di tengah pasar mobil konvensional yang cenderung stagnan bahkan tergerus, segmen kendaraan listrik (electric vehicle/EV) justru tumbuh sangat agresif dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini membawa efek berantai ke berbagai sektor pendukung, salah satunya adalah industri ban. Sebagai komponen yang wajib diganti secara berkala, kebutuhan ban ikut terkerek naik seiring makin banyaknya mobil listrik yang berseliweran di jalanan Indonesia. Lonjakan Penjualan Mobil Listrik yang "Tidak Masuk Akal" Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan tren pertumbuhan yang luar biasa. Pada 2022, penjualan mobil listrik murni (BEV) secara wholesale baru sekitar 10.600 unit dengan pangsa pasar hanya 1,01%. Angka itu melonjak drastis menjadi 103.931 unit dengan pangsa pasar 12,9% pada 2025.
Momentum tersebut berlanjut kuat pada 2026. Sepanjang kuartal I 2026, penjualan BEV mencapai sekitar 33.150 unit, tumbuh sekitar 96% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pada April 2026, penjualan mobil listrik menembus 14.815 unit atau naik 42,5% dari bulan sebelumnya, dengan pangsa pasar mencapai 18,34% dari total penjualan mobil nasional. Secara kumulatif Januari–Mei 2026, penjualan mobil listrik mencapai 57.087 unit dari total penjualan nasional 359.015 unit, atau setara pangsa pasar 15,9% — artinya sekitar 1 dari 6 mobil baru yang terjual di Indonesia kini adalah mobil listrik. Meski sempat melandai pada Mei 2026 seiring pola musiman pasar otomotif, tren tahunan tetap positif. Pertumbuhan ini didorong oleh beberapa faktor: makin banyaknya merek yang merilis model EV (terutama pabrikan asal China seperti BYD, Jaecoo, Geely, dan Chery), harga yang makin terjangkau di rentang Rp100–200 jutaan, serta berbagai insentif pemerintah seperti PPnBM 0%, keringanan bea balik nama kendaraan, dan pembebasan pajak kendaraan bermotor untuk mobil listrik rakitan lokal. Mengapa Ban Ikut Terdongkrak Setiap unit kendaraan baru yang terjual baik mobil konvensional maupun Listrik pada akhirnya membutuhkan ban pengganti setelah beberapa tahun pemakaian, di luar ban orisinal bawaan pabrik (original equipment/OE). Semakin besar populasi kendaraan di jalan, semakin besar pula pasar ban pengganti (replacement market) yang tercipta beberapa tahun ke depan. Yang menarik, mobil listrik punya karakteristik khusus yang membuat kebutuhan bannya sedikit berbeda dari mobil konvensional. Bobot baterai yang berat membuat mobil listrik menekan ban lebih besar, sementara torsi instan dari motor listrik mempercepat keausan telapak ban. Kombinasi ini membuat ban EV umumnya perlu diganti lebih sering dan memerlukan spesifikasi khusus (ban EV-ready) dengan konstruksi lebih kuat serta tingkat kebisingan yang lebih rendah. Bagi produsen ban, ini membuka peluang produk bernilai tambah lebih tinggi dibanding ban konvensional. Selain itu, kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) turut mendorong produsen mobil listrik menggunakan ban buatan lokal agar memenuhi syarat insentif, sehingga permintaan terhadap produsen ban domestik berpotensi makin meningkat ke depan. Emiten Saham yang Berpotensi Terdampak Di Bursa Efek Indonesia (BEI), setidaknya ada empat emiten produsen ban yang bisa mendapat angin segar dari tren ini: 1. PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) GJTL adalah produsen ban terintegrasi terbesar di Indonesia dan salah satu yang terbesar di Asia Tenggara, dengan merek GT Radial, Giti, IRC, dan Zeneos. Saham ini dikenal luas sebagai salah satu koleksi favorit investor kawakan Lo Kheng Hong, yang secara konsisten menambah kepemilikannya sepanjang awal 2026 hingga mencapai lebih dari 6,7% saham beredar. Analis menilai valuasi GJTL masih tergolong murah dibanding kinerja fundamentalnya. 2. PT Multistrada Arah Sarana Tbk (MASA) MASA merupakan anak usaha Compagnie Générale des Établissements Michelin yang memproduksi ban dengan merek Achilles dan Corsa, serta mendistribusikan ban Michelin di Indonesia. Saham MASA tercatat sebagai salah satu emiten ban dengan kenaikan harga paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir dibanding kompetitornya. 3. PT Goodyear Indonesia Tbk (GDYR) Produsen ban asal Amerika Serikat yang beroperasi di Indonesia ini juga kerap disebut analis sebagai saham dengan valuasi menarik di sektor ban, meski pergerakan sahamnya relatif lebih fluktuatif. 4. PT King Tire Indonesia Tbk (TYRE) Sebagai emiten yang baru melantai di bursa pada 2023, TYRE menjadi salah satu opsi bagi investor yang ingin terpapar pada pertumbuhan industri ban nasional, meski secara historis performa sahamnya belum sekuat tiga emiten lain di atas. Di luar produsen ban murni, tren elektrifikasi kendaraan juga secara tidak langsung berdampak positif pada emiten rantai pasok terkait otomotif dan komponen lokal lainnya, mengingat aturan TKDN mendorong lebih banyak produksi komponen di dalam negeri. Catatan Penting bagi Investor Meski data menunjukkan korelasi positif antara pertumbuhan penjualan EV dan potensi permintaan ban, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Pertama, dampak ke pendapatan produsen ban umumnya baru terasa signifikan di pasar ban pengganti (replacement tire), bukan seketika saat mobil baru terjual, sehingga efeknya bersifat jangka menengah-panjang, biasanya baru terasa 2-4 tahun setelah unit terjual. Kedua, kinerja saham emiten ban juga sangat dipengaruhi faktor lain seperti harga karet alam dan bahan baku petrokimia, nilai tukar rupiah, kondisi ekspor, serta persaingan dengan produk ban impor dari China dengan harga lebih murah. Ketiga, dominasi merek mobil listrik asal China di pasar Indonesia juga membuka kemungkinan masuknya ban impor bawaan yang bisa menekan pangsa pasar produsen ban lokal untuk segmen OE (original equipment), meski peluang di pasar ban pengganti tetap terbuka lebar. Artikel ini disusun berdasarkan data publik dan bukan merupakan rekomendasi atau nasihat investasi. Keputusan membeli atau menjual saham sebaiknya didasarkan pada analisis fundamental dan teknikal mandiri, atau berkonsultasi dengan penasihat keuangan berlisensi. Sumber
|
Blog Binaartha SekuritasArchives
August 2026
Categories
All
|
RSS Feed